Dirut Jakpro: Begitu Tingginya Nilai-Nilai Kejujuran

HUT Jakpro 1

Dirut Jakpro: Begitu Tingginya Nilai-Nilai Kejujuran

Didalam acara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) PT Jakarta Propertindo yang ke 18 tahun, jajaran direksi Jakpro menandai dengan tonggak sejarah baru yakni penandatanganan pakta integritas. Sebagai pimpinan perusahaan, para direksi memberikan contoh betapa pentingnya nilai-nilai kejujuran yang harus tertanam di dalam perusahaan.

Pada kesempatan HUT Jakpro yang digelar di Venue Jakarta International Velodrome (JIV) Rawamangun, Direktur Utama PT Jakarta Propertindo Dwi Wahyu Daryoto meminta seluruh insan PT Jakpro menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran. Hal tersebut sudah ada di dalam nilai-nilai perusahaan yakni JAKPRO (Jujur, Aksi, Kompeten, Professional, Respect dan Open Minded).

“Yang terpenting dari kesemuanya itu, adalah J (jujur). Nilai-nilai JAKPRO, tidak akan ada gunanya kalau J (jujur) tidak diterapkan,” ungkap Dwi Wahyu Daryoto.

Kejujuran merupakan hal paling utama, tegas Dwi Wakyu Daryoto, karena perusahaan tanpa dilandasi dengan nilai kejujuran bisa perusahaan terkena likuidasi. Ia berharap, dengan bertambahnya usia, semua insan Jakpro semakin mampu menerapkan nilai-nilai JAKPRO.

“Selama bekerja di Jakpro, kami mohon nilai-nilai JAKPRO dilaksanakan, baik di level BOD, dan BOD anak usaha,” tukasnya.

Dwi Wahyu Daryoto mengaku sedih mendegar laporan bahwa permintaan penandatangan pakta integritas di kalangan internal Jakpro sudah pernah disodorkan pada pertengahan tahun 2016 lalu. Surat edaran sudah dilayangkan ke semua karyawan, dan diharapkan segera dikembalikan dalam waktu tidak lama. “Namun sangat sedikit yang mengembalikan pakta integritas itu,” ujarnya.

Kembali lagi, Dirut Jakpro ini mengimbau, agar seluruh karyawan bersama membangun perusahaan, guna mendorong perwujudan pembangunan di Kota Jakarta.

HUT jakpro 2

Soal kejujuran, Dwi ingat dengan cerita betapa sederhananya kehidupan seorang Jenderal Polisi Hoegeng. Hal yang paling diingat adalah ungkapan Jenderal Hoegeng,“Selesaikanlah pekerjaan dengan sejujur-jujurnya karena kita masih bisa makan dengan nasi dan garam.”

Demikian pula, ketika Jenderal Hoegeng menutup toko bunga kesayangannya yang setiap harinya berperan untuk menambah penghasilan keluarga. Namun toko tersebut harus ditutup juga, karena demi menjaga dirinya agar tidak terjadi conflict of interest. “Takutnya para pejabat ketika mengirim karangan bunga ucapan, banyak yang membeli di toko tersebut. Beliau hanya menghindari terjadi conflict of interest.”

Dwi Wahyu Daryoto menyampaikan, bahwa kejahatan korupsi tidak hanya berhubungan dengan individual, tetapi bisa kejahatan tersebut timbul sebagai kajahatan korporasi. Dwi menghimbau kepada insan Jakpro untuk saling mengingatkan, kepada siapapun termasuk direksi Jakpro.

“Sebab apabila terjadi korupsi dilakukan dengan sadar oleh pejabat berwenang, bisa mendapatkan tindakan tegas secara pidana, bahkan perusahaan bisa dilikuidasi. Mudah-mudahan semua saling bisa mengingatkan.”

suh/