Jangan Sia-siakan Peluang dan Kesempatan

Dirut PT Jakpro, Satya Heraghandi menyerahkan hadiah kepada Adri Divisi Keuanga dalam rangkaian kegiatan olahraga menyambut HUT RI ke 71 di Jakarta, kemarin

Jangan Sia-siakan Peluang dan Kesempatan

Bagi semua orang, dan khususnya para profesional kantoran, peluang merupakan bagian penting untuk menapaki karirnya. Peluang saja tidak cukup, tanpa adanya kesempatan, sehingga hal ini sering menjadi persoalan tersendiri. Bagi sosok Satya Heragandhi, Direktur Utama PT Jakarta Propertindo, atau pria asal Semarang ini, peluang dan kesempatan itu terbuka lebar di PT Jakarta Propertindo, dalam uraiannya ketika coffee break bersama karyawan, di kantor Jakpro, baru-baru ini.

Peluang usaha sebagai BUMD papan atas di lingkungan DKI Jakarta, lanjut Satya, yang juga jebolan FMIPA UI ini, sangat terbuka lebar. Sekarang ini, berbagai proyek dikerjakan Jakpro secara masif, seperti proyek penugasan Asian Games 2018 yakni LRT Jakarta, Velodrome dan Equestrian. Disisi lain, Jakpro juga terus mengembangkan proyek komersial.

Dalam kesempatan tersebut, Pria dua anak ini memaparkan, sarana Asian Games 2018 yakni pembangunan Velodrome menghabiskan dana Rp655 miliar atau sekitar 48 juta USD, Equestrian sekitar Rp355 miliar belum termasuk tambahan lainya atau sekitar Rp400-415 miliar. Untuk mengerjakan dua proyek ini saja, sudah habis sekitar Rp 1 triliun. Belum lagi, pekerjaan LRT Jakarta tahap awal sudah menelan investasi sekitar Rp4-4,5 triliun.

“Anda bayangkan, tiga proyek penugasan Jakpro ini menempatkan perusahaan pada level investasi tertinggi di BUMD Jakarta.”

Tidak dipungkiri, terkait proyek penugasan Asian Games ini berkaitan dengan kebijakan pemerintah pusat, yang tengah berhemat anggaran untuk nilai transfer ke daerah. Seharusnya tahun ini PMP Jakpro mendapat Rp2,95 triliun, tidak semua diberikan, namun diundur.

Melalui koordinasi dengan BPKAD, PMP Jakpro digeser tahun depan karena adanya penghematan sekitar Rp4 triliun dari budget APBD Jakarta, sekitar Rp72 triliun. “Anda bayangkan sekitar dikurangi Rp4 triliun, sekitar 6% APBD dikurangi akhir tahun,”ujar Satya.

Namun bisa dikatakan, apakah seluruh anggaran tersebut dipakai habis hingga akhir tahun ini? Tentu tidak. Paling banter, untuk kontraktor tahun pertama bayar 50%, dan sepertinya tak mungkin juga, atau wajarnya 20% mungkin cukup, sehingga PMP Rp 1 triliun masih bisa berjalan, dan bisa untuk saving. “Namun, kalau tahun depan tak dipenuhi, ya masalah barang tentu.”

Efisiensi sekitar Rp4 triliun tersebut, juga untuk mengamankan TKD Pemprov DKI Jakarta pada November dan Desember. Jakpro juga tidak ngeyel harus mendapatkan PMP sesuai rencana. “Kita cari jalan terbaik, dan Jakpro bagian tak terpisahkan dari Pemprov, dan angka Rp2,95 tetap menjadi komitmen tak terpotong. Jadi, kita maju aja Rp1,25 triliun, sisanya tahun depan.”

Dirut Jakpro
Berikan Paparan

Proyek Komersial

Satya Heragandhi juga menegaskan, pekerjaan proyek penugasan juga tidak cukup. Jakpro juga harus fokus mengerjakan komersial. Tahun depan, Jakpro bakal mendapat tambah PMP untuk pengerjaan proyek komersial sekitar Rp400 miliar.

Di tengah kekhawatiran ancaman resesi ekonomi global yang terjadi di Eropa ataupun Amerika, justeru Indonesia masih mampu bertahan dengan asumsi pertumbuhan sekitar 5,2 persen hingga akhir tahun ini. Ya skenario jeleknya, pertumbuhan sekitar 4,6 -4,8 persen. Begitupun, tekanan ekonomi juga terjadi di Singapura ataupun mungkin agak optimistis di Philipina yang tumbuh sekitar 4 %.“Terjadi perlamabatan, makanya spending pemerintah yang didorong.”

Seirama dengan niat pemerintah menggalakkan infrastruktur yang terintegrasi, semua proyek berjalan inline dan kita miliki semua. Jakpro dalam situasi yang unik, di tengah kondisi swasta kebingungan, malah Jakpro banyak mengerjakan proyek.”Bayangkan saja, misalnya, proyek sampah satu unitnya saja butuh investasi sekitar Rp1,5 triliun, bayangkan kalau membangun sekitar 5-6 unit.”

Belum lagi mengenai Instalasi Pengolahan Air Bersih, yang hingga sekarang masih terjadi kekurangan pasokan sekitar 9.000 liter per detik. Dengan perhitungan 500 liter per detik produksi butuh investasi sekitar Rp130 miliar sehingga masih terbuka peluang investasi sekitar Rp1,26 triliun.“Padahal ini, merupakan akumulasi demand dari 20-15 tahun lalu karena tidak terbangun IPA. Dan hingga sekarang.”

Proyek Baru dan Pengembangan SDM

Belum lagi, menurut Satya, Jakpro juga diminta untuk mengembangkan proyek IT sehingga terus proses disiapkan. Misalnya saja, Jakarta One Card. Dengan kartu itu, bisa digunakan untuk busway, LRT, membayar Tol, dan kalau JakOne muncul, tentu peluang Jakpro bisa anda bayangkan?

“City Bank saja pelanggannya sekitar 1,5 juta customers, kendati berdiri sejak puluhan tahun. Kita bicara potensi 2-3 juta pelanggan. Dalam waktu dekat berjalan sesuai rencana,  maka kita akan bisnis lebih besar dengan City Bank.”

Demikian pula, dari sisi aset, menurut Satya Heragandhi,  nilai sekarang sekitar Rp6 triliun, dan tahun ini dapat tambahan Rp1 triliun atau menjadi Rp7 triliun dan akan bisa meningkat sekitar Rp8-9 triliun sampai akhir tahun ini. “Dengan aset ini, kemampuan meminjam misalnya saja 2,5 kali bisa memiliki kemampu financial hingga Rp20 triliun.

“Bicara potensi, kita ini gede banget, hanya tinggal masalahnya di SDM. Kita sekarang memiliki 135 karyawan, dan akan ditambah pelan-pelan.”

Bertemu dengan karyawan

Begitupun ke depan, menurut Satya Heragandhi, akan bermunculan anak usaha baru seperti misalnya rencana pendirian PT LRT Indonesia, serta ada lagi dalam proses pendirian PT Pelabuhan Jakarta Baru dan sebagainya.

“Nantinya, misalnya Jakpro sebagai invesment holding, Jakpro yang biayai dan anak usaha yang jalani. Kita kan proses baru PT LRT Indonesia, masih ada lagi, PT pelabuhan Jakarta Baru dan lainnya.”

“Ini semua SDM harus dibenahi, bulan depan kita akan pindahkan proses payroll, ke software base, jadi atasan approve pakai HP saja,” tambahnya.

Saat ini, masih terjadi paradoks misalnya saja training terkhir kapan, sudah lupa. Tidak ada yang memikirkan hal tersebut, karena biasanya hanya naik gaji dan pangkat. “Saya rasa anda pingin bekerja dan berkembang, dan bersemangat, marilah kita kembangkan. Opportunity banyak banget.”

Menurutnya, sekarang anak usaha ada empat, dan dari empat tersebut yang lengkap direksinya berapa, katanya perusahaan besar? Kalaupun mencari kelengkapan direksi misalnya cuma satu, cari temenya satu tim juga tidak gampang. “Waduh, agak repot. Kita belum ada interaksi, Kadiv-nya siap atau nggak?”

Jakpro menurut Satya belum memiliki talent pool management. Kadiv misalnya hanya ada calon pengganti dari internal. Kita harus jagain, SDM terus dibenahi, kalau tak sabar, apalagi akan ada bonus gede kan?“Kita opportunity yang luar biasa,” tuturnya.

suh/