Waduk Pluit

waduk_pluit_rev

Waduk Pluit

Waduk Pluit (asal nama Pluit berasal dari kata Belanda fluitschip yang artinya kapal layar panjang berlunas ramping), adalah waduk yang dibangun di Penjaringan, Jakarta Utara. Awalnya lahan ini berupa rawa-rawa. Pemerintah Hindia Belanda meletakkan sebuah fluitschip bernama Het Whitte Paert, yang sudah tidak laik laut di pantai sebelah timur muara Kali Angke sehingga daerah ini mendapat nama Pluit. Proyek Waduk Pluit dimulai sejak 1960, dengan dinyatakannya Pluit sebagai kawasan tertutup.

Kawasan ini direncanakan sebagai polder Pluit dan pekerjaan pengerukan kali melalui Keputusan Peperda Jakarta Raya dan Sekitarnya No 387/ Tahun 1960. Namun, di bawah Otorita Pluit ada pengembangan Pluit Baru untuk pengembangan perumahan, industri, dan waduk. Adapun daerah Muara Karang, Teluk Gong dan Muara Angke untuk perumahan dan pembangkit listrik, serta kampung nelayan.

Tahun 1971, Proyek Pluit terus dilanjutkan dengan perluasan wilayah hingga ke Jelambar dan Pejagalan. Pada tahun 1976 kawasan Pluit menjadi permukiman moderen dengan tempat rekreasi dan lokasi perindustrian. Pada tahun 1981, barulah Waduk Pluit selesai dan ditandai dengan banjir besar di wilayah Pluit.

Karena daerah bibir Waduk Pluit ditempati oleh perumahan, maka secara perlahan terjadi pendangkalan dan peralihan fungsi sebesar 20 hektar dari total 80 hektar lahan yang semestinya menjadi waduk penyimpan air. Sejak tahun 1990-an, warga mulai merebut tanah di pinggir Waduk Pluit yang seharusnya menjadi milik negara dan tidak boleh dibangun.

Tahun 2013, Pemprov DKI melakukan penertiban perumahan yang merangsek ke  waduk. Setelah itu, dibangun ruang terbuka hijau (RTH) dan dikembalikan sesuai fungsinya diubah sebagai taman kota. Di dalam RTH, disediakan jalan inspeksi dengan panjang 2,1 kilometer dan lebar 10 meter. Jalan inspeksi ini akan menghubungkan sisi Pluit Utara, mulai Jalan Raya Pluit samping Polsek Penjaringan, sampai wilayah Kedung Panjang, Jakarta Utara.

Secara luas, taman kota diartikan sebagai taman yang berada di lingkungan perkotaan dalam skala yang luas dan dapat mengantisipasi dampak-dampak yang ditimbulkan oleh perkembangan kota dan dapat dinikmati oleh seluruh warga kota.

Taman kota memiliki fungsi ekologi  dan Sosial. Fungsi ekologi yakni; sebagai paru-paru kota yang menghasilkan banyak oksigen, sebagai filter debu dan asap kendaraan bermotor sehingga dapat meminimalisir polusi udara, sebagai tempat penyimpanan air tanah. Demikian pula, taman juga sebagai peredam kebisingan kota yang padat aktivitas serta pelestarian lingkungan ekosistem.

Taman juga berfungsi sosial, yakni sebagai tempat komunikasi sosial, sarana olahraga, bermain, dan rekreasi, landmark sebuah kota, ataupun menambah nilai estetika sebuah lingkungan sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi sebuah kota.