Kolaborasi Jakpro untuk Meminimalisir Dampak Perubahan Iklim

milada-vigerova-pQMM63GE7fo-unsplash

Kolaborasi Jakpro untuk Meminimalisir Dampak Perubahan Iklim

Jakarta, 16 Oktober 2020 – Perubahan iklim atau climate change sudah nyata terjadi dan dirasakan dalam beberapa tahun terakhir. Jika terus dibiarkan dampaknya bisa sangat fatal. Sebab, ancamannya tidak main-main. Selain rugi material yang jumlahnya hingga mencapai ratusan miliar dollar. Perubahan iklim juga mengancam eksistensi manusia di bumi.

Atas dasar itulah, PT Jakarta Propertindo (Perseroda) terus berkolaborasi dengan semua pihak, termasuk juga dengan perkumpulan nirlaba yang dinamakan The Climate Reality Project. Komunitas yang beranggotakan 31.000 pegiat lingkungan ini dilatih langsung oleh mantan Wakil Presiden Amerika Serikat Al Gore. Tujuannya, untuk meneliti dan menjelaskan apa saja dampak krisis iklim terhadap kehidupan manusia.

Salah satu anggota pegiat lingkungan The Climate Reality Project yang sekaligus juga menjabat sebagai Manager of Environmental Pilar di sekretariat SDGs DKI Jakarta, Dino Fitriza, mengungkapkan, perubahan iklim didominasi oleh perilaku dan aktivitas manusia.  Akibatnya setiap hari polusi yang dihasilkan manusia terus bertambah. Bahkan, menurut data yang dimilikinya, akibat aktivitas manusia di bumi, hanya selama kurun waktu 24 jam dapat menghasilkan 152 juta ton polusi.

“Bumi adalah satu-satunya planet yang bisa dimukimi oleh manusia. Namun karena gaya hidup, planet ini makin panas dan hangat,” katanya dalam salah satu paparannya di acara #SimakKamis yang diselenggarakan secara daring oleh Jakpro, Kamis (15/10).

Dino menambahkan, aktivitas manusia yang menyebabkan bumi panas dan menghangat seperti transportasi yang menggunakan bahan bakar fosil, industri atau pabrik yang memakai bahan bakar fosil, maupun kebakaran hutan, baik yang disengaja maupun tidak sengaja.

Menurutnya, emisi yang dihasilkan akibat ulah manusia, terutama yang tinggal di wilayah perkotaan seperti Jakarta sudah berlebihan atau overload. Dampak nyatanya, suhu permukaan bumi terus meningkat. Hal ini tampak dirasakan dalam kurun waktu 19 tahun terakhir dan bahkan, pada lima tahun terakhir di beberapa lokasi di dunia mencatatkan rekor tertinggi suhu udaranya.

“Di Paris pada Juni 2019 suhunya mencapai 46 Celcius, India Juni 2019 hingga 50 Celcius lebih. Bahkan ada 224 lokasi di seluruh dunia yang mencetak rekor tertinggi di tahun 2018,” ujarnya.

Tak hanya itu, akibat pemanasan suhu di bumi berdampak juga pada meningkatnya kemungkinan terjadinya cuaca ekstrim seperti kemarau panjang, hujan dengan intensitas tinggi hingga merebaknya banjir bandang di seluruh dunia. Tercatat sejak 2018, bencana alam seperti banjir bandang meningkat empat kali lipat dibanding tahun 1980-an. Akibatnya kerugian material mencapai USD 643 miliar.

“Dampak di Indonesia, musim kemarau lebih panjang. Adapun musim hujan yang lebih pendek namun intens,” jelasnya.