Industri Olahraga Otomotif Mengharapkan Partisipasi Lebih Banyak Perempuan

801971_1200

Industri Olahraga Otomotif Mengharapkan Partisipasi Lebih Banyak Perempuan

Jakarta, 1 Juni 2022 – Industri olahraga otomotif membutuhkan lebih banyak perempuan. Maka dari itu, perempuan tak perlu ragu untuk berkiprah di industri itu. Hal ini ditandaskan oleh Julia Pallé, Sustainability Director ABB FIA Formula E Championship. “Sebenarnya kami membutuhkan lebih banyak perempuan untuk terlibat dalam industri olahraga otomotif,” ujar Pallé dalam diskusi daring bertajuk “Sustainability Talk Series #2: Net Zero Emission Race: Women in Formula Car Racing”, Rabu (1/6/22). Kendati yang sering disorot adalah pembalap, lanjut dia, ada banyak profesi yang dibutuhkan dan hal lain yang mesti dikerjakan. “Antara lain mekanik, engineer, jurnalis, sustainability professionals, maupun jadi pembalap,” lanjutnya.

Sementara itu, Formula E sendiri tak pernah membeda-bedakan jenis kelamin. Adapun kesetaraan gender merupakan isu penting yang digadang Formula E sejak musim kelima pada 2018, di samping sustainability atau keberlanjutan. “Kesetaraan gender berperan peran penting dalam industri kami. Lelaki dan perempuan setara, jadi yang terpenting agar diterima dalam industri ini adalah kemampuan dan otak,” tutur Pallé. Sebagai wujud dari kesetaran gender itu, Formula E meluncurkan program FIA Girls On Track.

Adapun tujuan program ini ialah untuk menginspirasi bahwa olahraga otomotif membuka peluang terhadap keterlibatan kaum perempuan. Program ini pun akan hadir di Formula E di Jakarta awal Juni, dan akan digelar satu hari sebelum balapan 4 Juni nanti. Pada kesempatan yang sama, pembalap perempuan dan figur publik Alexandra Asmasoebrata menerangkan bahwa program FIA Girls On Track akan mengajak 100 perempuan dari umur 8- 18 tahun.

Seratus perempuan itu akan diajak menyelami dunia balap. Mereka melihat tentang pengetesan mesin, perancangan aerodinamika mobil balap, hingga belajar membuat program serta tantangan dalam menyiapkan logistik. Mereka pun berkesempatan melakukan test drive, yang memungkinkan terbentuknya bibit-bibit pembalap perempuan Indonesia. “Jadi, kita membuka pintu untuk kaum perempuan. Kami memberi akses, menjembatani agar perempuan-perempuan lain mau berkecimpung di dunia balap,” ujar Ketua komisi Women In Motorsport Ikatan Motor Indonesia ini.

Lebih lanjut, Alexandra mengatakan bahwa program FIA Girls On Track bisa memutus stigma bahwa dunia balap identik hanya untuk pria. Tak heran, regenerasi pembalap perempuan di Indonesia sangat lambat, di mana hanya sakitar satu pembalap yang muncul per setahun.

Padahal, lanjut dia, kaum perempuan justru punya kelebihan yakni lebih teliti, tekun, dan rajin. “Kalau dari skills, sebenarnya perempuan bisa diadu. Bukan berarti wanita lebih rendah, selama mau mengasah pasti bisa dan setara dengan laki-laki,” katanya. Berangkat dari keyakinan itu, Diah Wulandari, yang merupakan Powertrain Engineer Patria, percaya diri berkecimpung sebagai tenaga ahli di dunia otomotif, terutama dalam mengembangkan kendaraan listrik (electric vehicle).

Diah menegaskan agar para perempuan menghapus stigma bahwa pekerjaan di otomotif identik dengan oli atau hal-hal yang kotor. Ia berharap program FIA Girls On Track bisa mengubah persepsi kaum perempuan itu terhadap industri olahraga otomotif. “Memang perlu kampanye untuk menghapus stigma negatif tentang engineering di dunia otomotif selalu dekat dengan dunia kotor dan kerja berat,” sambungnya.